Sekilas Kisah dari Musibah Mina 2015

PaIyanOleh H. Sofyan Haerudin, M.Pd.

Selepas wukuf di Arafah suasana haru melingkupi kami semua.  Saat kami menyimak khutbah lalu bermuhasabah suasana tersebut begitu melekat di hati kami.  Inilah puncak ibadah haji itu, yang menyebabkan siapapun yang pernah mengalaminya, ingin kembali merasakannya.  Allohu Akbar!!!

Keesokan harinya, 10 Dzulhijah 1436 H, pagi-pagi kami, saya dan istri beserta rombongan berangkat untuk melontar jumrah.  Sebelumnya saya begitu malas untuk sarapan pagi.  Aroma dan rasa  makanan di sini tentu jauh berbeda dengan di tanah air.  “Makanlah, kita kan melakukan perjalanan hari ini,“saran istri.  Saya pun akhirnya melahap sarapan pagi itu sampai habis.

Masih jauh jarak kami ke tempat melontar jumrah ketika tiba-tiba dari arah lain jalur perjalanan kami muncul jama’ah haji dengan postur tinggi besar dan berkulit hitam.  Mereka baru saja selesai melontar jumrah, jumlahnya semakin banyak membuat kami semakin berdesak-desakan terseret arus gelombang manusia-manusia besar tersebut.  Saya memegang istri kuat-kuat, tapi dorongan mereka memisahkan kami.  Saya terpental ke satu tempat dan istri terpental ke tempat lainnya.  Suasana benar-benar tak bisa lagi dikendalikan.  Suara takbir, jeritan dan semacamnya memenuhi udara pagi itu.

Saya berusaha untuk bergerak di atas tumpukan manusia yang tanpa saya sadari sudah berada di bawah saya.  Rasa sakit dan haus juga perasaan lainnya bercampur waktu itu, saya tidak bisa berbuat banyak.  Saya masih sadar ketika beberapa askar menarik saya dari tumpukan orang-orang yang sudah bergelimpangan itu, dan menyeret saya keluar jalur jalan.  Setelahnya saya tidak ingat apa-apa lagi.

Menurut keterangan teman-teman, saya langsung dibawa ke rumah sakit Abdul Aziz di Jeddah.  Itulah mengapa di hari-hari awal musibah Mina tak ditemukan satu pun jama’ah haji Indonesia di rumah sakit di Mina.  Jarak Mina ke Jeddah itu lumayan jauh, mungkin sama dengan Jarak Kuningan – Indramayu, sekitar 4 jam naik kendaraan.  Saya langsung masuk ruang ICU karena keadaan saya sangat kritis.  Menurut dokter saya menderita dehidrasi kronis.  Tentu saja hal ini menyebabkan fungsi organ-organ tubuh seperti paru-paru, ginjal, jantung dan semacamnya tidak berfungsi dengan baik.  Setelah dari ruang ICU selama beberapa hari saya tidak bisa penuh menarik napas.  Sesak sekali rasanya belum lagi cukup banyak jarum suntik yang menancap hampir di semua bagian tubuh saya.

Alhamdulillah, keadaan saya membaik.  Dan ini luar biasa menurut dokter yang merawat saya.  Dan katanya, yang menyelamatkan saya syareatnya adalah ketika pagi-pagi saat kejadian Mina saya sempat sarapan.  Terima kasih, istriku, kau telah menyelamatkan hidupku.  Tiga belas hari lamanya saya di rawat sebelum akhirnya dengan upaya banyak pihak, ketua rombongan, Kepala Kanwil dan banyak lagi saya diijinkan untuk pulang dari rumah sakit.

Di pemondokan ketua rombongan menyampaikan berita tentang istri yang katanya sudah tenang.  Bagi saya berita ini bagaikan petir yang menyambar.  Saya teringat empat anak kami yang masih kecil, masih memerlukan bimbingan ibunya.  Siapa nanti yang akan merawat mereka?  Ini yang ada di kepala saya waktu itu.  Insya Alloh, meski dengan berat hati, saya ikhlas melepas istri saya.  Saya yakin ia sudah tenang berada di sisi-Nya.  Aaaamiiiiiiiin Ya Rabbal ‘alamiiiiin…..

(Seperti diceritakan H. Sofyan Haerudin, M.Pd. di hadapan keluarga besar MAN Ciawigebang yang menjenguknya)

 

Posted on: October 10, 2015, by : asep wahyudin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>