BANJIR BANDANG YANG KEMUNGKINAN TERJADI KARENA PEMANASAN GLOBAL

Banyak ilmuan yang memprediksikan bahwa banjir bandang kemungkinan akan terjadi. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan banyaknya es yang mencair diantara dua kutub.

Penelitian terbaru juga membuktikan bahwa setiap satu tahun 8000m3. Hal tersebut menandakan  bahwa kondisi bumi semakin panas dan itu bisa dibuktikan meningkatnya produksi kendaraan bermotor dan banyaknya penggunaan bahan bakar fosil berupa batu bara dan minyak bumi. Dengan meningkatnya produksi kendaraan bermotor ditambah penggunaannya dan penggunaan bahan bakar fosil untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, maka jumlah Gas Rumah Kaca/CFC bertambah banyak seperti karbondioksida, yang mana dengan bertambah banyaknya jumlah CFC akan membuat suhu bumi bertambah panas.

Akibat dari bertambah panasnya suhu bumi es dikutub bumi pun banyak yang mencair, maka  akan banyak organisme yang mati dikarenakan hampir setiap organisme  membutuhkan air dan dengan mencairnya es dikutub maka persediaan air tawar yang bisa digunakan untuk minum berkurang karena 75% air tawar tersimpan dalam bentuk es dan 90% es tersebut berada di kutub. Yang akhirnya es tersebut menjadi asin karna menyatu dengan air laut.Yang akhirnya membuat air laut naik dan seolah-olah daratan mengalami degradasi. Hal tersebut dibuktikan dengan menurunnya daratan di pesisir pantai jakarta sekitar 10cm.

Bukan hanya itu, bahkan dengan meningkatnya jumlah CFC akan membuat _Ph_ air laut menjadi asam. Buktinya, yang tadinya pada abad ke-17 _Ph_ air menunjukan 8,2, setelah revolusi industri _Ph_ air menunjukan 8,1. Hal tersebut menunjukan bahwa Ocean Acidification terjadi walaupun perubahan Ph air dilaut tidak terlalu signifikan tapi itu menunjukan bahwa terjadinya proses pengasaman yang mana jika fenomena tersebut terus terjadi maka akan banyak organisme yang mati karena organisme akan susah untuk beradaptasi di _Ph_ yang berbeda. Perlu waktu lama untuk organisme-organisme dilaut untuk beradaptasi. Akibatnya bisa banyak organisme laut yang mati yang merupakan mata pencaharian para nelayan. Yang akhirnya ekosistem tidak seimbang.

 

 

Ikmal Nurfauzi

(XII-IPS 4)

Posted on: July 29, 2017, by : Siswa MAN 2 Kuningan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>